Minggu, 05 April 2009

HIKAYAT KAUM BANGSAWAN DAN RAJA-RAJA ISLAM DALAM KESUSASTRAAN INDONESIA LAMA

HIKAYAT KAUM BANGSAWAN DAN RAJA-RAJA ISLAM
DALAM KESUSASTRAAN INDONESIA LAMA

Kerajaan Islam di bawah pimpinan para khalifah al-Rasyidin telah berhasil meluaskan jajahan kekuasaannya ke beberapa buah negeri di Asia dan Afrika. Di Asia dengan kejatuhan al-Mada’in pada tahun 637 M. Negeri Persia telah tunduk di bawah pengaruh Islam. Di bawah pemerintahaan kerajaan Bani Umayyah dan Abbasiyyah, kekuasaan kerajaan Islam telah meluas sampai ke perbatasan negeri Cina. Tetapi pada abad kesebelas masehi kerajaan Abbasiyyah mulai mundur, maka dengan itu timbullah berbagai kerajaan kecil diseluruh jajahan takluk di Asia. Sejak itu sistem kerajaan atau sistem Sultan mulai berkembang didalam negeri-negeri Islam.
Dibawah pemerintahan kesultanan, golongan pemerintah mendapat hak-hak istimewa dan kekayaan terkumpul dalam kalangan mereka. Golongan pemerintah dan bangsawan menikmati hidup yang lumayan. Dibawah kekuasaan golongan bangsawan itu corak kebudayaan yang berkembang dalam negeri-negeri Islam pada masa itu diwarnai oleh golongan yang berkuasa dalam pemerintahan Islam.
Bidang kesusastraan merupakan suatu cabang kebudayaan yang berkembang melalui pusat kebudayaan di istana raja-raja dan golongan bangsawan. Golongan bagsawan senantiasa mencari media hiburan untuyk mengisi masa yang terluang dalam kehidupan mereka yang memang senantiasa lumayan, maka dengan itu kesusastraan digalakkan perkembangannya untuk memenuhi keperluan itu. Cerita-cerita yang mengisahkan dari hal raja-raja Islam dan kaum bangsawan menjadi suatu kegemaran golongan atasan dalam masyarakat Islam. Maka dengan itu lahirlah sejenis hikayat yang memperkatakan tentang raja-raja dan kaum bangsawan dalam kesusastraan Parsi, Arab dan lain-lain di negeri-negeri Islam. Cerita-cerita seumpama ini juga menjadi kegemaran masyarakat yang ingin mengetahui tentang kebesaran raja-raja mereka.
Kesusastraan hikayat seperti diatas yang tertulis dalam bahasa Parsi, Arab dan Hindustani yang berkembang dibawah naungan raja-raja islam menjadi sumber kepada penulisan hikayat-hikayat Indonesia yang mengisahkan tentang raja-raja dan kaum bangsawan Islam. Dalam zaman Islam di kepulauan Indonesia, pusat-pusat kebudayaan Indonesia masih bertempat di istana raja-raja Indonesia di samping institusi-institusi pengajian islam yang berkembang diluar dari istana. Oleh karena raja-raja dan kaum bangsawan indonesia gemar mendengar cerita tentang raja-raja islam, maka hikayat-hikayat tentang raja-raja Islam itu telah dituliskan kembali dalam bahasa Indonesia atau disadurkan ke dalam bahasa itu dari sumber kesusastraan Islam yang lain.

Hikayat Jauhar Manikam
Cerita diatas merupakan sebuah hikayat Indonesia yang telah disadurkan dari kesusastraan Arab klasik. Mengikut sebagaian pendapat bahwa hikayat diatas berasal dari cerita berbingkai yang berjudul Hikayat Seribu Satu Malam. Oleh sebab ceritanya sangat menarik, maka ia telah dikeluarkan daripada bingkainya dan dijadikan sebuah hikayat yang berlainan. Hikayat Jauhar Manikam ini sudah dikenal di alam Indonesia sejak tahun 1736 masehi sesuai catatan oleh Werndly dalam daftar buku-buku Indonesia yang dibuatnya[1].
Menuru van Ronkel hikayat ini mempunyai judul yang berbeda namanya seperti Hikayat Jauhar Manikam, Hikayat Puteri Jauhar Marigan, dan Hikayat Jauhar Marigan. Ia juga mempunyai sebanyak enam versi. Dalam versi-versi yang tersebut terdapat pula beberapa perbedaan di segi panjang pendek teks, jalan cerita dan nama wataknya. Misalnya nama watak Jauhar Manikam kadang-kadang disebut Jauhar Malikam, Jauhar Marigan, Jauhar Manikam dan Johar Malegan[2].

Sinopsis Hikayat Jauhar Manikam
Suatu ketika Sultan Harun hendak berangkat menunaikan fardhu Haji ke Mekkah bersama-sama istrinya, baginda telah menyerahkan tugas menjaga putrinya Jauhar Manikam serta istananya di kota Baghdad kepada Tuan Kadi. Dengan bujukan setan Tuan Kadi telah terpikat dengan Putri Jauhar Manikam dan mencoba memperkosanya, tetapi maksudnya itu tidak berhasil. Lalu ia membuat fitnah sehingga putri itu dijatuhkan hukuman mati. Tetapi putri itu terhindar, karena dengan tiba-tiba seekor pelanduk mengambil tempatnya, pada saat putri itu hendak dieksekusi. Kemudian putri itu melarikan diri. Akhirnya ia telah diambil oleh raja Damsyik untuk dijadikan permaisurinya. Pada suatu hari putri Jauhar Manikam teringat kepada ayahanda dan bundanya lalu mengambil keputusan untuk melawatnya. Sewaktu dalam perjalananan ke Baghdad menteri yang ditugaskan menemani Jauhari Manikam coba menodainya. Walaupun putri itu terlepas dari nafsu angkara menteri tersebut, tetapi ketiga-tiga putranya telah mati dibunuh. Putri Jauhar Manilkam lari membawa dirinya dengan menyamar sebagai seorang lelaki. Lalu sampailah ia ke negeri Rom. Kebetulan negeri itu tidak mempunyai raja, kemudian ia telah dipilih untuk menjadi raja negeri itu karena keelokan parasnya. Sementara itu Menteri Damsyik yang jahat itu telah gagal menodai putri Juhar Manikam, ia coba memperdagangkan barang-barang yang diamanahkan untuk disampaikan kepada Sultan Baghdad. Kebetulan Sultan Harun Al-Rasyid berada di tempat itu, lalu baginda membuat tuntutan ke atas barang-barang tersebut karena namanya tertulis di atas barang-barang itu. Maka pertengkaran berlaku diantara mereka. Akhirnya persetujuan dibuat supaya perselisihan itu diadili ole Raja Rom. Dalam masa pembicaraaan, Raja Rom mendapat menteri Damsyik itu bersalah. Setelah itu ia menerangkan rahasia dirinya, Raja Rom menjatuhkan hukuman bunuh kepada ketiga orang anak menteri itu sebagai balasan pembunuhan kepada ketiga putera Jauhar Manikam. Tuan Kadi Baghdad juga telah menjatuhkan hukuman bunuh karena fitnah sehingga terbuangnya Puteri Jauhar Manikam dari negerinya. Setelah menyerah tahta kerajaan Rom, Putri Jauhar Manikam pun kembali ke Baghdad dengan ditemani oleh ayahanda dan suaminya Raja Damsyik.
Walaupun cerita Jauhar Mnikam ini membicarakan tentang kehidupan golongan bangsawan, hikayat ini adalah sebuah karya kesusastraan yang bercorak Islam, maka persoalan dalam hikayat ditekankan tentang nilai etika keislaman. Ia membicarakan tentang kedudukan wanita yang mudah terkait kepada berbagi fitnah dan godaaan yang akan menyesatkan, tetapi Putri Jauhar Manikam sebagai seorang yang beriman dan kuat berpegang kepada ajaran agama, maka ia senantiasa dilindungi oleh Allah. Setiap angkara kejahatan yang dilakukan terhadapnya dapat dielakkan.
Sebagai sebuah hikayat yang menekannkan aspek pengajaran, maka ia menggambarkan betapa balasan akan ditimpakan kepada orang yang membuat angkara seperti hukuman mati yang dijatuhkan kepada seorang Kadi yang membuat fitnah, Menteri Damsyik yang khianat, saudagar Baqal yang tamak dan pencuri Zanggi yang jahat.

Hikayat Shams al-Anuar
Hikayat diatas adalah sebuah karya kesusastraan Indonesia becorak Islam. Hikayat ini dikarang oleh seorang penulis Indonesia, yaitu Raja Aisyah bt. Haji Sulaiman Penyengat, dari Riau pada tahun 1890. Kemudian hikayat ini disalin semula pada tahun 1971, 1930 dan 1932 oleh seorang penulis yang tidak diketahui namanya. Hikayat ini mengandung dua jilid betulis tangan dengan huruf Jawi. 9.7)
Sinopsis Hikayat Shams al-Anuar
Hikayat ini mengisahkan tentang pengembaraan putri Badr al-Muin yang menyamar sebagai Affandi Hakim. Shams al-Anuar yang turut bersama dalam pengembaraan itu berkeyakinan bahwa Affandi Hkim sebenarnya adalah seorang wanita karena kejelitaannya, lalu ia jatuh cinta kepadanya. Kejelitaan dan kegagahan Affandi Hakim menyebabkan raja perempuan yang ditemuinya dalam pengembaraan itu mengajaknya untuk kawin, tetapi ia menolak dengan alasan ia sudah mempunyai empat orang istri. Dalam pengembaraan itu Affandi Hakim telah menunjukkan kehandalannya sehingga ia dapat menaklukkan beberapa negeri seperti kerjaan Raja Malik al-Masa’ad dan Kerajaan Kudan. Sementara itu Sahms al-Anuar juga menjadi seorang pahlawan yang perkasa apabila ia dapat mengalahkan beberapa buah negeri seperti kerajaan Raja Malek Sab’an. Walaupun Affandi Hakim mencoba mengelakkan diri, tetapi Shams al-Anuar dapat mengesannya. Akhirnya mereka berkawin. 98).
Walaupun tema utama hikayat ini memperkatakan tentang percintaan, tetapi sebagai sebuah karya pengaruh Islam hikayat ini menyentuh tentang nilai keislaman seperti sikap raja harus bersifat adil, jujur dan bijaksana dalam menjalankan pemerintahan dan menjauhkan diri daripada melakukan pekerjaan yang dilarang oleh Allah SWT.

Hikayat Qamar al-Zaman
Hikayat ini adalah sebuah cerita yang disadurkan dari kesusastraan Arab yang tidak diketahui nama pengarangnya. Ceritanya bercorak sebuah karya pelipur lara yang mengisahkan tentang percintaan dan pengembaraan oleh hero bagi mencari seorang puteri yang dicintainya.
Sinopsis Hikayat Qamar al-Zaman
Qamar al-Zaman dan Puteri Malikatul Badar, masing-masing sebagai putradan putri raja yang mempunyai pendirian tidak mau kawinn, tetapi setelah mereka dipertemukan oleh dua makhluk jin, maka Qamar al-Zaman tertarik kepada putri itu dan mereka saling jatuh cinta. Pertemuan itu berlangsung dalam walktu yang singkat seperti mimpi. Hanya satu tanda yang dapat membuktikan pertemuan itu, yaitu pertukaran cincin. Setelah perpisahan kedua teruna dan dara itu mendapat penyakit dan menghadapi perubahan dalam sikap mereka dengan luar biasa, sehingga mereka dianggap gila. Lalu Puteri Malikatul Badar dibelenggu tangannya dan Qamar al-Zaman diasingkan di sebuah pulalu. Tetapi akhirnya Qamar al-Zaman berhasil mendapat kebenaran dari keluarganya untuk pergi mengembara. Dalam pengembaraan itu, Qamar al-Zaman bertekad untuk mencari kekasihnya dengan menyamar sebagai ahli nujum. Apabila sampai ke negeri Putri Malikatul Badar, ia mendengar bahwa putri sedang sakit keras, lalu ia menawarkan jasa baiknya kepada raja untuk mengobati putri. Tawarannya diterima dengan syarat jika gagal ia akan dihukum mati. Tanpa nenggunakan obat, kecuali sebentuk cincin tuan putri itu yang disimpannya serta sepucuk surat kepada putri itu, maka Qamar al-Zaman berhasil menyembuhkan penyakit Putri Malikatul Badar. Raja sangat gembira atas berita itu, lalu mengawinkan Malikatul Badar dengan Qamar al-Zaman. 99).

Hikayat Nazir Syah
Hikayat ini merupakan sebuah cerita yang mengisahkan tentang peperangan. Cerita ini digubah semata-mata untuk hiburan. Walau bagaimanapun hikayat ini memberi panduan dan pengajaran kepada raja-raja Islam dengan menekankan tentang sifat mulia yang harus dimiliki oleh seorang raja Islam seperti bertanggung jawab kepada rakyat jelatanya; sifat keperwiraan dalam peperangan terutama dalam perjuanagan mempertahankan tanah airnya.

Sinopsis Hikayat Nazir Syah
Raja Nazir Syah memerintah sebuah negeri bernama Dali. Setelah Mendapat informasi tentang negeri Keling, maka Raja Nazir Syah mengirimkan surat kepada Raja Keling memintannya agar mengirimkan upeti setiap tahun. Karena keengganan Raja Keling berbuat demikian, maka Raja Nazir Syah mengambil keputusan untuk menyerang negeri Keling. Kisah peperangan berakhir dengan kemenangan di tangan Raja Nazir Syah setelah Raja Keling mati terbunuh dalam peperangan itu. 100).

Hikayat Gul Bakawali
Hikayata di atas pernah diterbitkan di Singapura pada tahun 1880 oleh Muhammad Ali bin Ghulam Al-Hindi. Nama pengarangnya tidak dapat diketahui, tetapi hikayat ini bersumber dari sebuah karya kesusastraan Islam. Ia mengisahkan peristiwa yang berlaku dalam sebuah kerajaan Islam, tentang suka-duka keluarga diraja karena hal-hal tertentu yang berlaku dalam kerajaan, tetapi akhirnya mereka dapat mengatasi semua rintangan tersebut. Dan mereka dapat menjalani hidup dengan aman dan bahagia.

Sinopsis Hikayat Gul Bakawali
Di Sebuah negeri Islam terdapat seorang raja bernama Zain al-Muluk. Ia mempunyai putra yang gagah dan tampan, yang bernama Taj al-Muluk. Sewaktu putranya masih kecil, ahli nujumm meramalkan bahwa Taj al-Muluk akan membawa celaka bagi baginda. Jika ia memandang ayahnya niscaya akan buta. Oleh karena itu raja telah mengambil keputusan untuk membuang putranya dari negerinya. Pada suatu hari raja pergi berburu di hutan, lantas baginda menemui putranya. Apabila memandangnya, maka mata baginda akan menjadi buta, tidak dapat diobati kecuali dengan sejenis bunga yang bernama Bunga Bakawali. Seluruh rakyat mencari bunga tersebut untuk mengobati raja tetapi mereka gagal. Apabila taj al-Muluk turut mencari obat untuk ayahnya, maka ia berhasil menemukannya. Tetapi apa yang disangka sebagai bunga sebenarnya adalah seorang putri sakit. Sesudah itu Raja Zain al-Muluk pun sembuh dan Taj al-Muluk hidup bahagia bersama istri-istrinya termasuk Tuan Putri Bakawali. 101)


Hikayat Sultan Bustaman
Hikayat ini dikatakan sebagai sebuah karya saduran dan disalinkan ke bahasa Indonesia oleh saudagar Putih Rahmatullah. Salah satu versinya yang terdapat di Jakarta bertanggal tahun 1899 Masehi. Hikayat ini pernah diterbitkan oleh H. Muhammad Amin bin H. Abdullah di Singapura tahun 1913.

Sinopsis Hikayat Sultan Bustaman
Sultan Yahya mengawinkan Siti Salamiyah putri seorang Amir, sebagai istri keduanya. Ketika Siti Salamiyah hamil, permaisuri Sultan Yahya memfitnahnya, sehingga Siti Salamiyah dijual kepada orang. Lalu Siti Salamiyah mengalami berbagai kecelakaan dalam pengembaraannya hingga akhirnya ia menumpang pada Zahid Sofian. Di situ ia melahirkan seorang putra yang diberi nama Bustaman. Suatu hari Siti Salamiyah diculik oleh Jalena, maka tinggalah Bustaman bersama Zahid. Ketika ia besar, Bustaman ingin mencari ibu serta datuknya. Dalam pengembaraanya Bustaman menghadapi berbagai rintangan hingga akhirny a bertemu dengan datuk dan ibunya, Siti Salamiyah Kemudian Bustaman diangkat menjadi Sultan Tahtayamin. 102)
Hikayat tentang kaum bangsawan dan raja-raja Islam adalah sejenis karya kesusastraan yang dihasilkan sebagai media hiburan terutama golongan atas yang ingin mengetahui kisah-kisah bangsawan dan raja-raja Islam. Cerita-cerita jenis ini juga memberi hiburan kepada rakyat biasa yang ingin mengetahui kebesaran dan kebahagiaan golongan atas dalam masyarakat Islam.
Di samping memenuhi kebutuhan hiburan, hikayat-hikayat ini turut membahas tentang nilai-nilai baik yang didasarkan pada etika keislaman. Nilai-nilai yang diterapkan dalam karya kesusastraan ini merupakan aspek pengajaran, disamping sebagai media hiburan, karya-karya kesusastraan Indonesia lama bermaksud memberi pengajaran kepada orang Indonesia yang menjadi pembacanya.

[1] Mohammad Tajari Abu Yamin, Hikayat Jauhar Manikam, Kuala Lumpur: Penerbitan Utusan Melayu, 1960. hal.xv-xvii
[2] Mohammad Tajari Abu Yamin, Hikayat Jauhar Manikam. hal.xi-xiii

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar